Allah Peduli Kepada Kita Seperti Allah Peduli pada Abram dan Sara

Khotbah BP Sinode GKITP

Kejadian 18:1-15
Oleh: Pdt. Nelson Kapitarau, S.Th, MM

PENDAHULUAN

Shalom, Bapak/Ibu, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.

Pada Ibadah Minggu yang lalu, kita telah bersama-sama merenungkan firman Tuhan dari Kejadian 14:17-24 dengan tema "Peduli seperti Abram dan Melkisedek." Melalui perikop itu, kita belajar bahwa kepedulian yang sejati lahir dari iman....iman yang diwujudkan dalam sikap rendah hati, berbagi, dan menempatkan Tuhan sebagai sumber segala berkat. Abram menunjukkan kepeduliannya bukan karena kekuatan atau kepentingan pribadi, melainkan karena ia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah Yang Mahatinggi.

Pada Ibadah Minggu ini, firman Tuhan kembali mengajak kita melangkah lebih dalam, melalui pembacaan dari Kejadian 18:1-15 dengan tema "Allah Peduli kepada Kita, seperti Allah Peduli kepada Abram dan Sara."Setelah Abram memenangkan pertempuran dan membebaskan Lot, ia bertemu dengan Melkisedek, raja Salem, imam Allah Yang Mahatinggi. Dalam perjumpaan itu, Abram menunjukkan kerendahan hati dan kepedulian imannya. Ia tidak terikat pada harta rampasan, melainkan mengakui bahwa segala berkat berasal dari Tuhan. Abram memilih hidup benar di hadapan Allah dan manusia, peduli bukan demi keuntungan diri, tetapi demi kemuliaan Allah.

Namun perjalanan iman Abram tidak berhenti di sana. Waktu terus berjalan, dan janji Tuhan tentang keturunan belum juga terwujud. Tahun-tahun berlalu, usia Abram dan Sara semakin lanjut, dan harapan manusiawi semakin menipis. Di tengah kehidupan yang tampak biasa...di depan kemah, pada panas terik...Tuhan kembali datang menemui Abram.

Dalam Kejadian 18, Allah bukan hanya menerima kepedulian Abram, tetapi menyatakan kepedulian-Nya sendiri. Allah hadir, berbicara, dan meneguhkan kembali janji-Nya kepada Abram dan Sara. Jika dalam Kejadian 14 Abram belajar hidup peduli dan taat kepada Allah, maka dalam Kejadian 18 kita melihat Allah yang setia, yang peduli, dan yang berkuasa menggenapi janji-Nya, sekalipun manusia ragu dan lemah.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang hadir, Allah yang melihat pergumulan, dan Allah yang setia pada janji-Nya---bahkan ketika manusia ragu, lemah, dan merasa tidak mungkin. Kepedulian Allah kepada Abram dan Sara menjadi dasar iman kita hari ini, bahwa dalam setiap musim kehidupan, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita memasuki ibadah ini dengan hati yang terbuka, penuh syukur, dan iman yang diteguhkan, sebab Allah yang peduli itu juga hadir dan bekerja di tengah-tengah kita saat ini.

PENJELASAN AYAT PERAYAT :

  1. Ayat 1 : Allah yang Menyatakan Diri dan Hadir "Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre…"Kita perhatikan bahwa Inisiatif datang sepenuhnya dari Tuhan, bukan dari Abram. Allah menampakkan diri dalam situasi biasa: Abram sedang duduk di depan kemah pada panas terik. Ini menegaskan bahwa Allah peduli dan hadir dalam keseharian manusia, bukan hanya di tempat kudus atau momen spektakuler. Jadi Allah yang transenden(tidak terbatas) juga adalah Allah yang imanen (dekat dan menyapa manusia dalam kehidupan sehari-hari).
  2. Ayat 2-5: Kepedulian Abram dalam Keramahtamahan "…tiga orang berdiri di depannya…" Abram segera berlari, sujud, dan melayani para tamu. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, menerima orang asing adalah bentuk iman dan ketaatan. Abram tidak tahu sepenuhnya siapa mereka, tetapi ia memilih peduli tanpa syarat. Disni kita belajar bahwa Iman sejati tampak dalam tindakan kasih dan kerelaan melayani, bahkan kepada orang yang tidak kita kenal.
  3. Ayat 6-8: Pelayanan yang Total dan Tulus"…sepotong daging yang empuk dan baik…"Abram dan Sara memberikan yang terbaik, bukan sisa. Pelayanan dilakukan bersama oleh Abram, Sara, dan bujang-bujangnya. Abram berdiri melayani....sikap kerendahan hati seorang hamba. Disini kita belajar bahwa Kepedulian bukan sekadar niat baik, tetapi pengorbanan nyata yaitu tindakan.
  4. Ayat 9-10 : Janji Allah yang Diperbaharui "Sesungguhnya Aku akan kembali mendapatkan engkau tahun depan, dan Sara isterimu akan mempunyai seorang anak laki-laki."Allah menyebut nama Sara, bukan hanya Abram. Janji yang pernah disampaikan (Kej. 12 & 15) kini ditegaskan kembali dengan waktu yang jelas. Allah peduli bukan hanya pada rencana besar, tetapi juga pada kerinduan pribadi. Disni kita belajar bahwa Allah setia pada janji-Nya, meski waktu penantian terasa panjang bagi manusia.
  5. Ayat 11-12 Sara tertawa: Antara Luka dan Keraguan "…tertawalah Sara dalam hatinya…"Tawanya Sara bukan tawa sukacita, tetapi tawa skeptis dan pahit. Secara manusiawi, ia telah melewati masa subur...harapan seolah sudah mati. Alkitab jujur menunjukkan kelemahan iman manusia. Disini kita perhatikan bahwa Allah tidak menolak manusia karena keraguan, tetapi justru menemuinya di sana.
  6. Ayat 13-14 Teguran Lembut dan Kuasa Allah "Adakah sesuatu yang mustahil untuk TUHAN?" Allah mengetahui isi hati Sara--ini menunjukkan kemahatahuan Allah. Teguran Tuhan bukan untuk menghukum, tetapi memulihkan iman. Ayat ini menjadi pernyataan bahwa iman yang sangat kuat dalam Alkitab mengantar kita untuk belajar bahwa Ketidakmungkinan manusia bukan menjadi batas bagi kuasa Allah.
  7. Ayat 15 : Allah yang Mengerti Ketakutan Manusia "Sara menyangkal… sebab ia takut." Ketakutan menunjukkan kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Allah. Tuhan tidak menghukum Sara, tetapi menegaskan kebenaran dengan kasih. Relasi Allah dengan manusia tetap terjaga. Allah peduli pada perasaan manusia yang takut, ragu, dan rapuh.

PENERAPAN DALAM JEMAAT

Ada lima pesan penting yang perlu dilakukan,bukan hanya di ketahui oleh jemaat, pada minggu ini, berdasarkan pembacaan Alkitab Kejadian 18:1-15 dengan tema: "Allah Peduli kepada Kita, seperti Allah Peduli kepada Abram dan Sara."

  1. Kita mesti Sadar dan Percaya bahwa Allah Hadir dan Peduli dalam Hidup kita Sehari-hari seperti Allah menampakkan diri kepada Abram di tengah aktivitas biasa, bukan di altar atau tempat ibadah khusus. Pesan bagi Kita semua bahwa: Percayalah bahwa Allah hadir dalam rutinitas hidup dalam : keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan pergumulan pribadi. Jangan menunggu sampai hidup kita menjadi "sempurna" baru percaya kepada Allah dan bekerja. Mari kita membuka mata iman untuk melihat kehadiran dan kepedulian Allah dalam hal-hal sederhana yang kita alami tiap hari.
  2. Tunjukkan Kepedulian Nyata kepada Sesama: Abram merespons kehadiran Tuhan dengan tindakan nyata: menyambut, melayani, dan memberi yang terbaik. Kepedulian kepada sesama adalah wujud iman kepada Allah. Iman tanpa tindakan kasih akan menjadi iman yang kering, Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Apa yang bisa kita lakukan mulai dari hal kecil: menyapa, mendengar, menolong, dan berbagi-baik di rumah, gereja, maupun masyarakat, kita tidak menunggu sampai kita menjadi orang yang banyak harta baru berbagi,tetapi berbagi di mulai pada waktu kita tidak punya apa apa, sehingga pada waktu kita punya banyak harta itu sudah menjadi kebiasaan kita.
  3. Tetap Beriman Meski Janji Allah Terasa Lambat Terpenuhi: Sara tertawa karena janji itu terasa terlalu lama dan tidak masuk akal secara manusiawi. Penantian panjang bukan tanda Allah lupa tetapi Allah bekerja menurut waktu-Nya, bukan waktu manusia, Allah tau kapan janjinya terpenuhi. Tugas kita sekarang adalah kita belajar untuk setia dan sabar dalam doa, meskipun hasilnya belum terlihat.
  4. Kita Bawa Keraguan dan Luka kita,seberapa dalamnya luka kita,kita datang kepada Allah, Bukan Menjauh dari-Nya: Allah tidak menghukum tawa Sara, tetapi menegurnya dengan kasih. Allah tidak menolak orang yang ragu kepada-Nya, Justru Allah peduli dan mau memulihkan iman yang lemah. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah: Belajar Jujur di hadapan Tuhan...mengaku bahwa saya ragu, saya takut, dan saya lelah... meskipun dalam keadaan sepeti itu kita tetap datang kepada-Nya.
  5. Pegang Teguh Imanmu bahwa Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah,Firman Tuhan menegaskan: "Adakah sesuatu yang mustahil untuk TUHAN?"Mari Kita belajar bahwa: Keterbatasan manusia bukanlah sama seperti batasnya kuasa Allah. Situasi yang "tidak mungkin" bisa menjadi tempat pekerjaan Allah dinyatakan. Mari kita semua percaya dan menyerahkan kembali hidupkita, keluarga, dan masa depan kita ke dalam tangan Tuhan dengan iman.Amin.
Untuk Informasi lainnya yang terdapat di dalam buletin, Silahkan download file pdf yang link-nya tersedia di bawah ini
GKI Martin Luther

Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama