Kepedulian Tuhan dan Ketidakpatuhan Yunus

Yunus 1 : 1-17
Oleh: Pdt. Nelson Kapitarau, S.Th, MM

PENDAHULUAN

Syalom selamat hari minggu dan salam sejahtera untuk kita semua.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, pada Ibadah Minggu yang lalu kita telah merenungkan firman Tuhan dari kitab Kejadian 18 : 1-15 tentang Allah yang datang kepada Abraham dan Sara dengan janji kehidupan, meskipun secara manusia hal itu terasa mustahil dan disambut dengan tawa keraguan. Hari ini, dalam Yunus 1:1-17, kita kembali berjumpa dengan Allah yang sama...Allah yang tidak hanya setia pada janji-Nya, tetapi juga peduli kepada bangsa-bangsa lain dan memanggil hamba-Nya untuk taat pada kehendak-Nya, sekalipun panggilan itu terasa berat dan tidak kita kehendaki. Dari tenda dekat pohon Tarbantin di Mamre Abraham hingga badai di laut dengan Yunus , firman Tuhan mengajak kita melihat bahwa iman bukan hanya soal percaya kepada janji Allah, tetapi juga soal ketaatan untuk berjalan dalam rencana-Nya.

Kitab Yunus termasuk dalam Kitab Nabi-Nabi Kecil (Minor Prophets), bukan karena pesannya kecil, tetapi karena jumlah pasalnya hanya empat. Keunikan Kitab Yunus terletak pada fokusnya: kitab ini bukan terutama berisi nubuat, melainkan kisah naratif tentang seorang nabi dan relasinya dengan Allah.

Secara tradisi Yahudi dan Kristen, kitab ini dikaitkan dengan Yunus bin Amitai, seorang nabi yang disebut dalam 2 Raja-raja 14:25, yang hidup pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II di Israel Utara. Namun, banyak sarjana Alkitab berpendapat bahwa: Yunus adalah tokoh historis, tetapi kitabnya kemungkinan ditulis oleh penulis anonim yang hidup kemudian, yang menggunakan kisah hidup Yunus untuk menyampaikan pesan teologis yang mendalam. Dengan demikian, Kitab Yunus dapat dipahami sebagai narasi teologis yang didasarkan pada figur historis.

Terdapat dua lapisan waktu yang penting:

Waktu peristiwa (kehidupan Yunus),Sekitar abad ke-8 SM (± 793–753 SM), Masa kejayaan Israel Utara di bawah Yerobeam II

Waktu penulisan kitab: Banyak ahli menempatkannya sesudah pembuangan Babel (sekitar abad ke-5 SM), Dalam konteks umat Israel yang sedang bergumul dengan identitas, eksklusivisme, dan relasi dengan bangsa-bangsa lain

Kitab Yunus ditujukan terutama kepada umat Israel, bukan kepada bangsa Niniwe.

Tujuan utamanya adalah: Menegur sikap nasionalisme dan eksklusivisme rohani Israel,Mengoreksi pemahaman bahwa kasih dan keselamatan Allah hanya untuk Israel, Mengajar umat Tuhan agar memiliki hati yang sejalan dengan hati Allah

Latar Belakang Sejarah: Niniwe dan Asyur, Niniwe adalah ibu kota kekaisaran Asyur, bangsa yang terkenal: kejam,brutal,penindas. Asyur adalah musuh besar Israel, yang akhirnya menghancurkan Israel Utara pada tahun 722 SM

Bagi orang Israel: Niniwe bukan hanya kota berdosa, tetapi simbol ancaman, penderitaan, dan trauma nasional. Inilah sebab utama Yunus menolak pergi ke Niniwe.

Kitab Yunus lahir dalam suasana: Bangsa Israel merasa diri sebagai umat pilihan yang eksklusif. Muncul sikap: kebencian terhadap bangsa asing, keengganan untuk melihat musuh bertobat.

Ada Ketegangan antara: keadilan Allah dan belas kasihan Allah. Kitab ini menantang pemahaman sempit tentang Allah dan keselamatan.

Beberapa tujuan utama Kitab Yunus adalah:

  1. Menyatakan bahwa Allah berdaulat atas seluruh ciptaan dan bangsa-bangsa
  2. Menegaskan bahwa belas kasihan Allah bersifat universal
  3. Mengoreksi ketidaktaatan dan kemunafikan rohani umat Tuhan
  4. Mengajar bahwa panggilan Allah sering bertentangan dengan kehendak dan perasaan manusia
  5. Menunjukkan bahwa pertobatan lebih penting daripada status keagamaan

Apa Relevansi Kitab Yunus bagi Gereja Masa Kini? Kitab Yunus tetap relevan karena: Gereja sering jatuh pada eksklusivisme rohani,Umat Tuhan kadang enggan melayani “orang lain” Panggilan Allah sering dihindari karena luka, trauma, atau prasangka

Kitab Yunus menegur gereja agar: tidak membatasi kasih Allah, tidak lari dari panggilan, bersedia dipakai Tuhan untuk menghadirkan pertobatan dan pemulihan. Kitab Yunus bukan terutama tentang ikan besar, melainkan tentang Allah yang besar dalam kasih dan kepedulian, dan manusia yang kecil dalam ketaatan

PENJELASAN AYAT PERAYAT

  • Ayat 1 : Ayat ini menegaskan bahwa panggilan Yunus berasal langsung dari Allah. Yunus bukan bertindak atas kehendaknya sendiri, melainkan sebagai nabi yang dipanggil secara sah. Firman Tuhan selalu bersifat aktif, menuntut respons nyata dari penerimanya.
  • Ayat 2: Perintah Allah bersifat mendesak dan jelas. Niniwe disebut sebagai kota besar yang kejahatannya telah sampai kepada Allah, menunjukkan bahwa Allah peduli terhadap kondisi moral bangsa-bangsa, bukan hanya Israel. Panggilan ini sekaligus menantang eksklusivisme iman Yunus.
  • Ayat 3: Respons Yunus bertolak belakang dengan perintah Allah. Tarsis melambangkan pelarian sejauh mungkin dari kehendak Tuhan. Yunus tidak sekadar lari dari tugas, tetapi berusaha menjauh dari hadirat TUHAN, suatu ironi bagi seorang nabi.
  • Ayat 4: Allah bertindak aktif dalam alam untuk menegur Yunus. Badai bukan kebetulan, melainkan alat didikan ilahi. Ini menunjukkan bahwa ketidaktaatan pribadi dapat berdampak pada orang lain.
  • Ayat 5: Para pelaut kafir menunjukkan respons religius: mereka berdoa dan berusaha menyelamatkan kapal. Ironisnya, orang-orang non-Israel tampak lebih peka secara rohani dibandingkan nabi Tuhan yang tertidur lelap.
  • Ayat 6: Seruan nakhoda menjadi teguran keras bagi Yunus. Seorang kafir mengingatkan nabi untuk berdoa. Ini menyingkapkan kemerosotan spiritual Yunus yang kehilangan kepekaan terhadap Allah.
  • Ayat 7: Praktik membuang undi dipakai Allah untuk menyatakan kebenaran-Nya. Allah berdaulat bahkan atas metode sederhana manusia untuk menyatakan kehendak-Nya. Yunus tidak bisa terus bersembunyi.
  • Ayat 8: Pertanyaan para pelaut menggiring Yunus kepada pengakuan. Dosa yang disembunyikan akhirnya akan terungkap. Tanggung jawab pribadi menjadi isu utama.
  • Ayat 9: Pengakuan iman Yunus kontras dengan tindakannya. Secara verbal ia mengaku takut akan Tuhan, tetapi secara praktis ia melawan kehendak-Nya. Ini mencerminkan iman yang tidak konsisten.
  • Ayat 10: Pertanyaan ini bersifat moral dan teologis. Orang kafir justru menegur nabi Tuhan. Mereka memahami bahwa pelarian dari Allah adalah tindakan serius.
  • Ayat 11: Para pelaut menunjukkan sikap bertanggung jawab. Mereka mencari solusi yang adil, bukan sekadar menyelamatkan diri. Ketegangan badai semakin besar, menandakan urgensi pertobatan.
  • Ayat 12 : Yunus mengakui kesalahannya dan bersedia menanggung akibatnya. Namun, pengakuan ini belum sepenuhnya pertobatan, sebab ia belum bersedia taat pergi ke Niniwe.
  • Ayat 13 : Para pelaut berusaha menghindari mengorbankan Yunus. Sikap ini menampilkan belas kasihan dan penghormatan terhadap nyawa manusia, bahkan lebih tinggi dari sikap Yunus sendiri.
  • Ayat 14 : Doa para pelaut mencerminkan pengenalan akan kedaulatan Allah. Mereka sadar bahwa hidup dan mati berada di tangan Tuhan, bukan di tangan mereka.
  • Ayat 15: Ketaatan mereka menghasilkan ketenangan laut. Alam merespons kehendak Allah. Pengorbanan Yunus menjadi sarana keselamatan bagi orang lain.
  • Ayat 16 : Terjadi pertobatan di tengah bangsa kafir. Mereka mempersembahkan korban dan bernazar kepada Tuhan. Ironis: pelarian Yunus justru membawa orang lain kepada Allah.
  • Ayat 17: Ikan besar bukan hukuman semata, melainkan alat keselamatan dan pemeliharaan Allah. Di dalam perut ikan, Yunus diselamatkan untuk dipulihkan dan diarahkan kembali pada panggilannya.

PENERAPAN DALAM JEMAAT

Melalui Kitab Yunus 1:1-17,tema khorbah:“Kepedulian Tuhan dan Ketidakpatuhan pada Tuhan”,

  1. Tuhan Peduli, Bahkan Ketika Kita Tidak Peduli: Allah mengutus Yunus ke Niniwe karena Ia peduli pada kota itu, meskipun Niniwe adalah musuh Israel. Kepedulian Tuhan melampaui batas suku, bangsa, luka, dan kebencian manusia. Pesan bagi jemaat:Jangan membatasi kasih Tuhan hanya untuk orang yang kita sukai atau yang “seiman” dengan kita. Tuhan memanggil gereja untuk peduli kepada semua orang, termasuk mereka yang berbeda dan pernah melukai kita.
  2. 2. Ketidakpatuhan Selalu Berdampak, Bukan Hanya bagi Diri Sendiri: Pelarian Yunus menyebabkan badai yang membahayakan seluruh awak kapal. Ketidaktaatan satu orang membawa penderitaan bagi banyak orang. Pesan bagi jemaat:Keputusan iman kita. baik taat maupun tidak taat selalu berdampak pada keluarga, gereja, dan masyarakat. Iman bukan urusan pribadi semata, tetapi kesaksian hidup bersama.
  3. Teguran Tuhan adalah Bentuk Kepedulian-Nya: Badai di laut bukan tanda Tuhan meninggalkan Yunus, melainkan bukti bahwa Tuhan masih peduli dan tidak membiarkan Yunus terus tersesat. Pesan bagi jemaat:Masalah, kegoncangan, dan kesulitan hidup bisa menjadi cara Tuhan menegur dan memanggil kita kembali. Jangan langsung menyalahkan Tuhan, tetapi bertanyalah: apa yang Tuhan mau ajarkan?
  4. Tuhan Tetap Bekerja Sekalipun Kita Tidak Taat: Di tengah ketidakpatuhan Yunus, para pelaut justru mengenal dan takut akan TUHAN. Tuhan berdaulat mengubah kegagalan manusia menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Pesan bagi jemaat:Jangan merasa hidup ini hancur hanya karena pernah gagal. Tuhan sanggup memakai bahkan kegagalan kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya, asal kita mau kembali kepada-Nya.
  5. Kepedulian Tuhan Memberi Kesempatan Kedua: Ikan besar yang menelan Yunus bukan alat penghukuman, tetapi sarana penyelamatan. Yunus diselamatkan agar dapat melanjutkan panggilannya. Pesan bagi jemaat:Tuhan adalah Allah yang memberi kesempatan baru. Ketidakpatuhan bukan akhir perjalanan iman. Selama ada pertobatan, selalu ada pemulihan.Amin.
Untuk Informasi lainnya yang terdapat di dalam buletin, Silahkan download file pdf yang link-nya tersedia di bawah ini
GKI Martin Luther

Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama