Khotbah Minggu 5 Juli 2026
ESTER 2:19-23Oleh: Pdt. Dr. Nelson Kapitarau
PENDAHULUAN
Shalom, selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Mengawali bulan Juli ini, kita akan belajar bersama dari Kitab Ester, sebuah kitab yang mengajarkan bahwa Allah tetap bekerja memelihara umat-Nya, bahkan ketika keadaan tampak sulit dan nama-Nya tidak disebutkan secara langsung. Ester, yang juga bernama Hadassah, dipakai Allah menjadi alat keselamatan bagi bangsa Yahudi yang hidup di negeri Persia. Melalui kehidupannya, kita melihat bahwa Tuhan sanggup memakai orang biasa untuk menggenapi rencana-Nya yang luar biasa.
Peristiwa dalam Kitab Ester terjadi pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros ketika bangsa Yahudi hidup sebagai kaum perantau di negeri Persia. Mereka menghadapi ancaman besar akibat rencana jahat Haman yang ingin memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Namun di balik semua peristiwa itu, Allah sedang bekerja secara diam-diam mempersiapkan jalan keselamatan bagi umat-Nya.
Perikop Ester 2:19–23 menceritakan tentang Mordekhai yang sedang duduk di pintu gerbang istana. Tempat itu bukan sekadar pintu masuk, melainkan pusat pemerintahan, tempat para pejabat berkumpul dan mengambil keputusan. Di sanalah Mordekhai mengetahui rencana jahat dua pegawai istana, Bigtan dan Teresh, yang hendak membunuh Raja Ahasyweros. Mordekhai segera menyampaikan informasi tersebut kepada Ester, dan Ester memberitahukannya kepada raja atas nama Mordekhai. Setelah diselidiki, rencana itu terbukti benar. Kedua pelaku dihukum mati, sedangkan jasa Mordekhai dicatat dalam kitab sejarah kerajaan.
Sekilas peristiwa ini tampak sederhana. Mordekhai tidak menerima penghargaan apa pun saat itu. Namun beberapa tahun kemudian, ketika raja tidak dapat tidur dan membaca kembali kitab sejarah kerajaan, catatan tentang jasa Mordekhai menjadi titik awal kehancuran Haman dan pengangkatan Mordekhai. Inilah bukti bahwa Allah bekerja melalui peristiwa- peristiwa biasa untuk menggenapi rencana-Nya yang besar. Tidak ada satu pun kesetiaan umat Tuhan yang luput dari perhatian-Nya.
Melalui bagian firman Tuhan ini, ada empat pelajaran penting yang dapat kita renungkan.
Pertama, tetap setia di tempat Tuhan menempatkan kita. Mordekhai tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab di pintu gerbang kerajaan. Ester juga tetap rendah hati dan taat kepada nasihat Mordekhai sekalipun ia telah menjadi ratu. Kesetiaan tidak diukur dari tinggi rendahnya jabatan, tetapi dari kesungguhan hati dalam menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Tuhan menempatkan setiap orang pada posisi yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pendeta, guru, pegawai, petani, nelayan, pengusaha, mahasiswa, pelajar, atau ibu rumah tangga. Apa pun posisi kita, semuanya adalah panggilan untuk memuliakan Tuhan. Kolose 3:23 mengingatkan kita, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Karena itu, marilah kita tetap setia bekerja, melayani, dan beribadah, sekalipun tidak selalu mendapat penghargaan dari manusia.
Kedua, tetap waspada terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Mordekhai memiliki kepekaan untuk mengetahui adanya rencana jahat terhadap raja. Ia tidak bersikap acuh tak acuh, melainkan bertindak dengan bijaksana. Demikian pula orang percaya dipanggil untuk memiliki kepekaan rohani dan sosial. Kita harus waspada terhadap tipu daya Iblis, pengaruh dosa, ajaran yang menyesatkan, serta berbagai hal yang dapat merusak kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 5:8 berkata, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." Sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan pertumbuhan rohani anak- anak. Sebagai pemimpin gereja, kita harus menjaga kemurnian ajaran. Sebagai jemaat, kita perlu menjaga hidup agar tetap berkenan kepada
Ketiga, gunakan posisi yang Tuhan berikan untuk melakukan kebaikan. Mordekhai memakai kesempatan yang dimilikinya untuk menyelamatkan raja, sedangkan Ester menggunakan kedudukannya sebagai ratu untuk menyampaikan informasi yang benar. Mereka tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi memilih melakukan kehendak Tuhan. Demikian pula, Tuhan menempatkan kita di berbagai tempat bukan tanpa tujuan. Di dalam keluarga kita dipanggil menjadi teladan. Di tempat kerja kita menjadi saksi Kristus. Di gereja kita menjadi pelayan yang setia. Di tengah masyarakat kita menjadi pembawa damai. Setiap posisi yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.
Keempat, Tuhan tidak pernah melupakan kesetiaan umat-Nya. Jasa Mordekhai memang tidak langsung dihargai, tetapi Allah tidak pernah melupakannya. Pada waktu yang telah ditentukan-Nya, Tuhan mengangkat dan memuliakan Mordekhai melalui cara yang tidak pernah diduganya. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan kita. Mungkin pelayanan kita tidak diperhatikan, kerja keras kita tidak dipuji, atau kebaikan kita tidak dibalas. Namun Tuhan melihat semuanya. Galatia 6:9 mengingatkan kita, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi le
Jemaat yang dikasihi Tuhan, kisah Mordekhai mengajarkan bahwa Allah tidak hanya bekerja melalui peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga melalui kesetiaan dalam tugas-tugas sederhana setiap hari. Karena itu, marilah kita tetap setia menjalankan panggilan Tuhan, tetap waspada terhadap keadaan di sekitar kita, menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan, dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah melupakan setiap kesetiaan umat-Nya.
Kiranya melalui hidup kita, Tuhan dimuliakan dan banyak orang mengalami kasih serta pertolongan-Nya. Amin
Untuk Informasi lainnya yang terdapat di dalam buletin, Silahkan download file pdf yang link-nya tersedia di bawah ini
