"Dan inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan."
Setiap orang tentu menyukai terang. Ketika listrik padam pada malam hari, kita segera mencari lilin, senter, atau menyalakan lampu darurat. Terang membuat kita dapat melihat dengan jelas, berjalan dengan aman, dan menghindari bahaya. Sebaliknya, kegelapan sering menghadirkan rasa takut, kebingungan, dan ketidakpastian.
Melalui suratnya, Rasul Yohanes memakai gambaran yang sangat sederhana namun penuh makna. Ia menyatakan bahwa Allah adalah terang. Pernyataan ini bukan sekadar menggambarkan sifat Allah, tetapi juga menunjukkan siapa Allah sesungguhnya. Terang melambangkan kekudusan, kebenaran, kemurnian, kasih, dan kesempurnaan Allah. Karena itu Yohanes menegaskan bahwa di dalam Allah sama sekali tidak ada kegelapan. Tidak ada dosa, tidak ada kebohongan, tidak ada kejahatan, dan tidak ada kepura-puraan di dalam Dia.
Firman Tuhan ini menjadi undangan sekaligus tantangan bagi setiap orang percaya. Jika kita mengaku mengenal Allah, maka kehidupan kita pun harus memancarkan terang-Nya. Iman kepada Kristus tidak boleh berhenti pada pengakuan dengan mulut, tetapi harus terlihat nyata melalui cara hidup kita setiap hari.
Hidup dalam Terang Berarti Hidup Sesuai dengan Pengakuan Iman
Pada ayat keenam Yohanes berkata, "Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam
kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran."
Perkataan ini sangat tegas. Banyak orang dapat dengan mudah berkata bahwa mereka adalah orang Kristen, rajin mengikuti ibadah, aktif dalam pelayanan, bahkan memahami firman Tuhan. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah kehidupan kita mencerminkan Kristus?
Terkadang seseorang dapat tampil saleh di hadapan orang lain, tetapi menyimpan kebencian, iri hati, ketidakjujuran, atau kebiasaan berdosa yang sengaja dipelihara. Yohanes mengatakan bahwa pengakuan seperti itu tidak selaras dengan kehidupan yang dijalani.
Hidup dalam terang berarti ada kesatuan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita lakukan. Orang yang hidup dalam terang akan berusaha berkata jujur, berlaku adil, menepati janji, mengasihi sesama, dan meninggalkan dosa. Memang tidak mudah, tetapi itulah proses kehidupan yang terus dibentuk oleh Tuhan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya menjadi pendengar firman, melainkan juga pelaku firman. Dunia membutuhkan lebih banyak kesaksian hidup daripada sekadar kata-kata. Ketika orang melihat kehidupan kita yang penuh kasih, jujur, rendah hati, dan peduli kepada sesama, mereka dapat melihat terang Kristus bersinar melalui diri kita.
Hidup dalam Terang Membawa Persekutuan yang Sehat
Selanjutnya Yohanes berkata, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain..." (ayat 7).
Salah satu buah dari hidup dalam terang adalah lahirnya persekutuan yang sehat. Orang yang hidup dalam terang tidak senang memecah belah, menyebarkan fitnah, atau memelihara permusuhan. Sebaliknya, ia menjadi pembawa damai.
Sering kali persoalan dalam keluarga maupun dalam gereja bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, melainkan karena kurangnya keterbukaan, kejujuran, dan kasih. Ketika setiap orang lebih memilih mempertahankan ego daripada mencari perdamaian, hubungan menjadi rusak.
Sebaliknya, hidup dalam terang mengajarkan kita untuk berani berkata benar dengan kasih, mau meminta maaf ketika bersalah, dan bersedia mengampuni ketika disakiti. Persekutuan yang demikian akan menjadi kesaksian yang indah tentang kasih Kristus.
Di tengah tema Tahun Kepedulian, firman Tuhan ini mengingatkan bahwa kepedulian bukan hanya berupa bantuan materi, tetapi juga terlihat melalui hubungan yang sehat dengan sesama. Kepedulian diwujudkan dengan saling mendengarkan, saling mendoakan, saling menguatkan, dan saling menopang ketika ada anggota jemaat yang mengalami pergumulan.
Tidak Ada Manusia yang Tidak Berdosa
Yohanes kemudian memberikan peringatan yang sangat penting, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." (ayat 8).
Perkataan ini mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pernah jatuh dalam dosa, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perbuatan.
Bahaya terbesar bukanlah ketika seseorang berbuat dosa, melainkan ketika ia merasa dirinya tidak berdosa. Kesombongan rohani membuat seseorang sulit menerima teguran,
enggan meminta maaf, dan merasa selalu benar. Akibatnya, hatinya semakin jauh dari Tuhan.
Sebaliknya, orang yang hidup dalam terang justru berani mengakui kelemahannya. Ia tidak malu datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur. Ia sadar bahwa dirinya membutuhkan kasih karunia setiap hari.
Kerendahan hati menjadi tanda kedewasaan rohani. Semakin seseorang mengenal kekudusan Allah, semakin ia menyadari betapa besar kebutuhan akan pengampunan Tuhan.
Pengakuan Dosa Membuka Jalan Pemulihan
Ayat kesembilan merupakan salah satu janji terindah dalam Alkitab.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
Perhatikan urutannya. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna terlebih dahulu baru datang kepada-Nya. Sebaliknya, Dia mengundang kita datang apa adanya, membawa segala kelemahan dan kegagalan kita.
Ketika kita mengaku dosa dengan sungguh- sungguh, Allah yang setia mengampuni kita. Pengampunan itu dimungkinkan karena pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Darah-Nya yang tercurah menjadi dasar keselamatan bagi setiap orang yang percaya.
Namun kasih karunia Allah tidak berhenti pada pengampunan. Yohanes mengatakan bahwa Allah juga menyucikan kita. Artinya, Tuhan terus membentuk kehidupan kita agar semakin serupa dengan Kristus. Setiap hari Roh Kudus bekerja memperbarui hati, pikiran, dan karakter kita.
Inilah kabar sukacita bagi setiap orang percaya. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kasih karunia Allah jika kita datang dengan pertobatan yang sungguh. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan telah menolak kita. Selama kita datang kepada-Nya dengan hati yang hancur, Dia tetap membuka tangan- Nya untuk menerima kita.
Menjadi Pembawa Terang di Tengah Dunia
Tema "Allah adalah Terang" tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja. Terang harus dibawa keluar ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam keluarga, kita dipanggil menjadi pembawa damai, membangun komunikasi yang baik, menghormati pasangan, mengasihi anak-anak, serta menghargai orang tua.
Di tempat kerja, kita dipanggil menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan tidak mengambil keuntungan melalui cara-cara yang tidak benar.
Di tengah masyarakat, kita dipanggil menjadi pribadi yang peduli kepada mereka yang lemah, menolong orang yang membutuhkan, serta menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan.
Dunia saat ini membutuhkan terang Kristus. Banyak orang hidup dalam ketakutan, kebencian, konflik, dan keputusasaan. Kehadiran orang percaya seharusnya membawa pengharapan baru. Ketika kita mengasihi, mengampuni, membantu sesama, dan hidup benar di hadapan Tuhan, kita sedang memancarkan terang Kristus.
Terang tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri. Ia hanya bersinar dan membuat orang lain dapat melihat jalan. Demikian pula hidup kita. Kiranya orang lain tidak memuliakan kita, tetapi memuliakan Tuhan yang bekerja melalui kehidupan kita.
Refleksi Pribadi
Firman Tuhan hari ini mengajak kita melakukan pemeriksaan diri.
Apakah selama ini kita sungguh-sungguh hidup dalam terang, atau masih ada bagian hidup yang kita sembunyikan dari Tuhan?
Apakah pengakuan iman kita sudah tercermin dalam cara kita memperlakukan pasangan, anak-anak, rekan kerja, dan sesama jemaat?
Apakah kita masih menyimpan kebencian, iri hati, atau dosa yang belum kita akui?
Dan apakah kita sudah menjadi pembawa terang Kristus bagi lingkungan di sekitar kita?
Kiranya firman Tuhan ini menggerakkan hati kita untuk terus hidup dalam pertobatan. Jangan takut datang kepada Tuhan, sebab Dia setia mengampuni dan memulihkan setiap orang yang datang kepada-Nya dengan kerendahan hati.
Marilah kita meninggalkan segala bentuk kegelapan, hidup dalam kejujuran, kasih, dan kekudusan, sehingga melalui kehidupan kita, banyak orang dapat melihat terang Kristus yang bersinar di tengah dunia Amin..
Untuk Informasi lainnya yang terdapat di dalam buletin, Silahkan download file pdf yang link-nya tersedia di bawah ini
